โ— Live ยท Indonesia Bisnis Forum ยท TV One

Krisis Energi:
Negara Lain Panik,
BBM RI Tak Naik

Eskalasi konflik Timur Tengah mengguncang harga minyak dunia hingga $116/barel. Negara-negara ASEAN panik. Indonesia memilih jalan berbeda โ€” menahan harga BBM sambil mengakselerasi transisi energi nasional.

๐Ÿ”ฅ Minyak $116/barel
๐Ÿ’ต Asumsi APBN $70/barel
โœ… BBM RI Tidak Naik
๐Ÿ“… B50 Mulai 1 Juli 2026
โ–ถ Tonton Indonesia Bisnis Forum

โšก Harga minyak sempat menyentuh $116/barel

|

Asumsi APBN: $70/barel ยท Kurs aktual: Rp17.000/USD

|

โœ… BBM Subsidi & Non-Subsidi: Tidak Naik

โš  MINYAK $116/BARELASUMSI APBN $70/BAREL SUDAH TERLEWATIโœ… BBM RI TIDAK NAIKKURS USD/IDR Rp17.000B50 MULAI 1 JULI 2026 โ€” HEMAT Rp48 TRILIUNHEMAT KONSUMSI BBM Rp59 TRILIUNKETAHANAN ENERGI RI SKOR 6,64 โ€” KATEGORI TAHANLPG 70% IMPOR โ€” TARGET KONVERSI KE JARGASFILIPINA: KRISIS ENERGI HINGGA 2027 โš  MINYAK $116/BARELASUMSI APBN $70/BAREL SUDAH TERLEWATIโœ… BBM RI TIDAK NAIKKURS USD/IDR Rp17.000B50 MULAI 1 JULI 2026 โ€” HEMAT Rp48 TRILIUNHEMAT KONSUMSI BBM Rp59 TRILIUNKETAHANAN ENERGI RI SKOR 6,64 โ€” KATEGORI TAHANLPG 70% IMPOR โ€” TARGET KONVERSI KE JARGASFILIPINA: KRISIS ENERGI HINGGA 2027
$116
Puncak Harga Minyak/barel
Akibat eskalasi Timur Tengah
$70
Asumsi APBN (terlewati)
Kurs asumsi Rp16.500, aktual Rp17.000
6,64
Skor Ketahanan Energi RI
Rentang tahan: 6,0 โ€“ 8,0
Rp48 T
Proyeksi Hemat via B50
+ Rp59 T hemat konsumsi BBM
Rp6,2 T
Hemat WFH & Efisiensi ASN
Pembatasan perjalanan dinas 50โ€“70%
ยทยทยท
Pembaca Artikel
Real-time counter
01 โ€” Perbandingan Regional

Harga BBM di ASEAN
Pasca Eskalasi Timur Tengah

Indonesia hampir paling rendah di ASEAN dengan Rp12.300/liter. Singapura sudah di Rp43.600 dan Filipina dilanda krisis energi hingga 2027.

TERTINGGI๐Ÿ‡ธ๐Ÿ‡ฌ
Singapura
Rp43.600
Bantuan biaya hidup & subsidi energi untuk kelompok rentan
๐Ÿ‡ต๐Ÿ‡ญ
Filipina
Rp32.000+
Presiden: krisis energi hingga 2027. Warga sempat berjalan kaki massal
๐Ÿ‡น๐Ÿ‡ญ
Thailand
Rp24.000+
UEFA, batasi perjalanan dinas, hemat listrik rumah tangga
๐Ÿ‡ป๐Ÿ‡ณ
Vietnam
Rp20.000+
WFH, transportasi umum, efisiensi BBM nasional
๐Ÿ‡ฑ๐Ÿ‡ฆ
Laos
Rp17.000+
Turunkan harga BBM tekan inflasi, batasi perjalanan
๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡พ
Malaysia
Rp14.140
Tambahan subsidi BBM + edukasi hemat energi
TERENDAH ASEAN๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ
Indonesia
Rp12.300
Hampir terendah di ASEAN. Pemerintah tahan harga sambil akselerasi B50, konversi EV, dan transisi energi nasional
02 โ€” Respons Kebijakan

Langkah Tiap Negara
Hadapi Gejolak Energi

Indonesia memilih strategi paling komprehensif โ€” bukan sekadar menahan harga, tapi mengakselerasi transisi energi jangka panjang.

๐Ÿ‡ป๐Ÿ‡ณ
Vietnam
โ€ขDorong Work From Home (WFH)
โ€ขPromosi transportasi umum massal
โ€ขHimbau efisiensi penggunaan BBM
๐Ÿ‡ธ๐Ÿ‡ฌ
Singapura
โ€ขBantuan biaya hidup kelompok rentan
โ€ขSubsidi energi bertarget
โ€ขFokus perlindungan masyarakat bawah
๐Ÿ‡ฑ๐Ÿ‡ฆ
Laos
โ€ขTurunkan harga BBM tekan inflasi
โ€ขBatasi perjalanan tidak penting
๐Ÿ‡น๐Ÿ‡ญ
Thailand
โ€ขTerapkan UEFA (hemat energi)
โ€ขPembatasan perjalanan dinas
โ€ขPenghematan listrik rumah tangga
๐Ÿ‡ต๐Ÿ‡ญ
Filipina
โ€ขKurangi hari kerja (sempat viral)
โ€ขEfisiensi energi masif pemerintah
!Presiden: Krisis energi hingga 2027
๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡พ
Malaysia
โ€ขTambahan subsidi BBM untuk rakyat
โ€ขEdukasi masyarakat hemat energi
๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ INDONESIA โ€” STRATEGI TERLENGKAP
Indonesia
โœ“Percepat mandatori biodiesel B50 per 1 Juli 2026 โ†’ hemat Rp48 triliun
โœ“Penghematan konsumsi BBM diproyeksikan Rp59 triliun
โœ“Pembatasan perjalanan dinas 50% dalam negeri, 70% luar negeri
โœ“Kebijakan WFH 1 hari โ†’ proyeksi hemat Rp6,2 triliun
โœ“Kuota BBM subsidi dari 60 โ†’ 50 liter/bulan
โœ“Akselerasi kendaraan listrik + konversi LPG ke jaringan gas (jargas)
๐Ÿ’ฐ Total Potensi Penghematan: Rp48 T (B50) + Rp59 T (BBM) + Rp6,2 T (efisiensi) = โ‰ˆ Rp113 Triliun
03 โ€” Fiskal & Ketahanan

Kondisi APBN & Ketahanan
Energi Nasional

Dua asumsi makro APBN sudah terlewati, namun Menkeu memastikan APBN masih bisa meng-cover. Skor ketahanan energi RI di kategori tahan.

Asumsi APBN vs Kondisi Aktual
Deviasi dari asumsi dasar akibat eskalasi Timur Tengah
ICP Asumsi
$70/barel
$70/barel
ICP Aktual
$112/barel
$112/barel โš 
Kurs Asumsi
Rp16.500
Rp16.500
Kurs Aktual
Rp17.000
Rp17.000 โš 
Ketahanan EBT
Skor 6,64
6,64/10 โœ“

Indikator Fiskal Terkini

Harga Minyak Asumsi APBN$70/barel
Harga Minyak Aktual$112/barel โ†‘60%
Kurs USD/IDR AsumsiRp16.500
Kurs USD/IDR AktualRp17.000 โ†‘3%
Status APBNMasih Tahan โœ“
Meskipun dua asumsi makro terlewati, Menkeu Purbaya Yudi Sadewo memastikan APBN masih dapat meng-cover seluruh kondisi yang terjadi.

Posisi Energi Nasional

Skor Ketahanan Energi6,64 (Tahan)
Rentang Tahan6,0 โ€“ 8,0
Impor Minyak Harian~1 juta barel
Produksi Domestik~600 rb barel/hari
Ketergantungan LPG Impor70% dari kebutuhan
Indonesia memiliki sumber daya nabati, minyak domestik, geothermal, hidro, dan surya sebagai fondasi ketahanan energi jangka panjang.
04 โ€” Transkrip Wawancara Lengkap

Dialog Panel Pakar
Indonesia Bisnis Forum

Wawancara lengkap dari program Indonesia Bisnis Forum TV One โ€” pilih narasumber untuk membaca transkrip wawancara selengkapnya.

๐ŸŽ™๏ธ Presenter โ€” Selantra ยท Pembukaan Program

Selamat malam pemirsa. Senang sekali malam hari ini kembali menyapa Anda di Indonesia Bisnis Forum bersama dengan saya Selantra. Eskalasi yang terjadi di Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel terhadap Iran ini masih terus terjadi bahkan setelah sebulan lamanya dan sampai saat ini masih belum ada tanda-tanda bahwa akan dilakukan genjatan senjata antara kedua belah pihak. Bahkan statement kecil saja yang disampaikan oleh Trump akan membuat harga minyak dunia bergejolak, fluktuatif. Terakhir beberapa waktu lalu saya lihat harganya bahkan sampai dengan 116 per barel.

๐Ÿ“Š Harga BBM ASEAN โ€” Laporan Presenter

Di sini kita akan lihat bagaimana kemudian masing-masing negara kemudian bersikap terkait dengan harga yang terjadi, gejolak yang terjadi mulai dari Singapura. Kalau kita lihat saat ini Singapura harganya Rp43.600 per liter. Dan ini adalah negara-negara di ASEAN pemirsa. Dan terakhir yang paling rendah adalah harga dari Malaysia sekitar Rp14.140. Dan Indonesia berada hampir paling rendah di ASEAN yakni Rp12.300 per liter. Bahkan kemarin kita dengarkan bersama konferensi pers yang disampaikan oleh pemerintah. Pemerintah menyikapi terkait dengan eskalasi yang terjadi sampai dengan hari ini belum dilakukan penyesuaian ataupun kenaikan harga BBM baik yang subsidi maupun yang non subsidi.

๐Ÿ“‹ Kondisi APBN โ€” Laporan Presenter

Di sini kita bisa lihat bahwa asumsi di APBN sekitar 70 USD per barel. Dan kemarin harganya ini sudah di angka 112 USD per barel. Bagaimana juga dengan asumsi nilai tukar atau kurs kita di APBN? 16.500 asumsinya. Bahkan kemarin saya cek ini di 17.000. Hari ini Rp17.000. Tapi ternyata statement dari Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewo mengatakan bahwa meskipun asumsi kita sudah terlewati, tapi ternyata APBN kita masih bisa meng-cover segala kondisi yang terjadi akibat eskalasi.

Nah, di sini kita bisa lihat bahwa negara-negara lainnya seperti apa sih langkah-langkah yang diambil. Kalau di Vietnam contohnya mengambil langkah seperti mendorong WFH, kemudian transportasi umum dan menghimbau untuk melakukan efisiensi penggunaan BBM. Kalau di Singapura fokusnya adalah bantuan biaya hidup dan subsidi energi dan fokus ke kelompok yang rentan. Kalau di Laos ini menurunkan harga BBM untuk menekan inflasi yang terjadi. Kalau di Thailand contohnya menerapkan UEFA juga. Kemudian ada pembatasan perjalanan dinas, penghematan listrik rumah tangga. Nah, di Filipina ini yang sempat viral kemarin pemirsa, hari kerja ini dikurangi bahkan sejak awal terjadinya eskalasi di sana. Bahkan di Filipina uniknya kemarin masyarakatnya sempat berjalan kaki untuk menghemat energi dan Presiden Filipina mengatakan krisis energi di Filipina sampai dengan 2027. Di Malaysia contohnya ada tambahan subsidi BBM yang diberikan oleh pemerintah Malaysia kepada masyarakat.

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ Langkah Indonesia โ€” Laporan Presenter

Di Indonesia ada sejumlah langkah yang kemudian sudah diambil oleh pemerintah menyikapi eskalasi yang terjadi. Yang pertama melakukan percepatan kebijakan biodiesel B50 yang akan diberlakukan pada tanggal 1 Juli 2026 dan potensi penghematannya adalah senilai Rp48 triliun. Begitu pula dengan penghematan konsumsi BBM yang diperkirakan akan mencapai Rp59 triliun. Kita lihat lagi langkah-langkah lainnya. Pembatasan perjalanan dinas 50% dalam negeri, 70% dari luar negeri, dan yang terakhir adalah kebijakan WFH 1 hari yang diproyeksikan akan penghematan terjadi Rp6,2 triliun.

Pertanyaan kita, seberapa lama kemudian ketahanan ini akan bisa kita toleransi? Begitu pula bagaimana penerapan dari biofuel yang akan kita terapkan pada tanggal 1 Juli mendatang? Bersama saya Selantra dan narasumber yang sudah kami siapkan untuk Anda.

๐Ÿ“ก
BAKOM RI
Hamdan Hamedan
Tenaga Ahli Utama ยท Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia
Pertanyaan Presenter

Setelah sebulan eskalasi terjadi, perang berlangsung, tetapi Indonesia luar biasa sampai saat ini kita belum menaikkan harga BBM. Bagaimana tanggapan Anda soal ini?

Jawaban Hamdan

Terima kasih. Ada sebuah pepatah lama. Kita terkadang tidak bisa mengubah arah angin, tapi kita bisa menyesuaikan layar kita agar perahu kita bersama yang kita sebut Indonesia ini bisa sampai ke tujuan. Apa tujuannya? Tujuannya adalah kesejahteraan untuk seluruh rakyat Indonesia. Tujuannya adalah menciptakan ketahanan yang begitu kuat dari segi pangan, dari segi energi, dari segi air atau apa yang sering disebut oleh PBB, food energy and water resiliency. Di tengah dunia yang mungkin bergejolak, begitu bergejolak turbulensi dan tidak baik-baik saja, Indonesia memilih untuk mengakselerasi transformasi lewat butir transformasi budaya kerja. Bukan karena Indonesia mengalami kesulitan berat. Bukan karena fiskal kita tidak stabil. Bukan. Bukan karena kita tidak memiliki cadangan minyak. Bukan, bukan. Tapi kita ingin memastikan kelanjutan kestabilan kita. Kita ingin melanjutkan ketahanan kita bukan hanya untuk hari ini, tapi juga di masa depan.

Pertanyaan Presenter

Tapi berarti tidak betul kalau misalnya Indonesia santai-santai saja kemudian menghadapi eskalasi yang terjadi atau bagaimana tanggapan Anda?

Jawaban Hamdan

Kita cermat. Kita menghitung. Karena dalam sebuah kebijakan itu ada dua aspek. Pertama persiapan. If you fail to plan, we plan to fail. Kita siapkan beberapa skenario-skenario dari yang terbaik. Seperti hasil hari ini misalnya Presiden Donald Trump mengatakan kita akan menyelesaikan konflik ini dalam waktu 2 sampai 3 minggu. Harga minyak pun turun. Skenario terbaik selesai dalam waktu 2 sampai 3 minggu. Kemudian ada mungkin skenario moderat. Dan juga ada skenario yang kurang baik. Semuanya dihitung dengan cermat dan tujuannya adalah memastikan kelanjutan stabilitas nasional. Memastikan kesejahteraan rakyat Indonesia. Saya melindungi yang paling bawah, memampukan yang tengah, mendorong yang di atas.

Pertanyaan Presenter

Bagaimana kemudian Bakom melihat agar lebih cepat masyarakat ini memindahkan, changing lifestyle, behavior-nya? Dengan mandatori yang harus langsung dijalankan masyarakat.

Jawaban Hamdan

Mungkin yang pertama kita pernah di posisi ini. Kita pernah mengalami ini ketika COVID misalnya. Bagaimana kita melakukan penghematan-penghematan. Kita juga pernah mengalami kenaikan harga minyak yang melonjak hingga 125 dolar per barel. Dan average-nya itu selama 4 bulan itu selalu di atas 110 USD mulai bulan Mei, Juni, Juli, dan Agustus di tahun 2022 ketika perang Ukraina dan Rusia sedang mencapai puncaknya. Di situ kita bisa melakukan efisiensi-efisiensi. Oleh sebab itu kita pun saat ini mengakselerasi transformasi-transformasi yang memang harus dilakukan. Pertama, mungkin tadi disampaikan oleh Prof. bagaimana dari B40 ke B50. Awalnya Presiden Prabowo menulis strategi transformasi bangsa, beliau menargetkan di tahun 2029. Ternyata ini harus lebih cepat lagi. Disampaikan bahwa di semester 2, di Juli 2026 ini, kita akan mulai melaksanakan B50 hingga akhir tahun dan melakukan efisiensi ataupun penghematan sebesar Rp48 triliun.

Kemudian dengan adjustment, bagaimana kita bekerja lebih efisien. Baik itu para ASN, meeting yang bisa diselesaikan lewat email, selesaikan lewat email. Keputusan-keputusan yang bisa diselesaikan lewat Zoom, selesaikan lewat Zoom. Agar cara kerja kita lebih efisien. Dan itu saja dari efisiensi ASN bisa dihemat Rp6 triliun. Dari kesadaran kolektif kita sebagai bangsa bahwa kita sedang mengalami turbulensi dunia, itu diprediksi bisa mencapai Rp-an triliun penghematan.

Artinya sampai dengan saat ini, meskipun eskalasinya masih berlangsung, ini sudah dipikirkan oleh Presiden Prabowo Subianto untuk dikonversi atau ditransisikan dari yang sebelumnya menggunakan energi fosil kemudian menggunakan renewable energy.
Pertanyaan Presenter โ€” Penutup

Bagaimana kemudian pemerintah bisa memberikan mandatori langsung? Dan bagaimana masyarakat mengambil informasi dengan benar, membedakan antara hoaks dan fakta?

Jawaban Hamdan โ€” Penutup

Ya, tentu yang pertama kita juga bisa melihat pengumuman resmi dari pemerintah dan tidak melakukan asumsi-asumsi. Itu yang pertama. Tapi mungkin saya mau akhiri seperti ini. Litmus test dari republik ini di tengah ketidakpastian global adalah bagaimana kita keluar dari tantangan ini lebih siap daripada sebelumnya. Bagaimana ketahanan energi hari ini lebih siap dan akan jauh lebih siap di masa depan. Karena kita telah membahas beberapa solusi yang akan diimplementasi. Bedanya apa? Karena kita sudah mengeset deadline-nya.

๐ŸŽ“
FEB UI
Prof. Telisa Aulia Falianty
Guru Besar Ekonom ยท Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia
Pertanyaan Presenter

Bagaimana pandangan Anda soal harga yang stabil sampai dengan hari ini?

Jawaban Prof. Telisa

Iya. Jadi memang kita sudah banyak belajar, kita sudah banyak melalui berbagai macam krisis. Jadi bukan hanya kali pertama kita menghadapi krisis. Kalau dalam historikal kita, 2005 waktu itu pernah ada guncangan, kemudian 2008, kemudian 2020 COVID dan di era sebelumnya juga ada guncangan-guncangan kepada harga. Jadi tadi kalau saya menyambung apa yang disampaikan oleh Pak Hamdan bahwa kita memang sudah cermat dalam menghitung. Jadi yang pasti itu yang pertama memang tidak boleh panik. Jadi artinya bahwa kita realistis bahwa ini ada suatu perubahan. Pemerintah juga menginformasikan bahwa kita ini menghadapi suatu guncangan.

Namun di situ apakah dari sisi ekonomi terutama kebijakannya kita itu mau mengambil apa kemungkinan kenaikan harga dan sebagainya. Tadi ada simulasi-simulasi biasanya di dalam model yang dipilih oleh pemerintah. Nah, pemerintah sedang bimbang karena begini, kita masih mencermati apakah ini temporary atau permanen. Kalau saya lihat, kalau saya baca sebagai pandangan seorang ekonom, ini mau dilihat dulu permanen atau temporary. Nah, kalau misalkan itu permanen mungkin nanti ada kebijakan-kebijakan yang akan diambil. Nah, untuk harga sementara pemerintah masih melihat, harapannya temporary. Maksudnya kalau misalkan Trump sendiri menyatakan bahwa ingin mengakhiri konflik ini, nah itu kan harga harusnya tadi kembali stabil.

Kayaknya saya melihat bahwa kenaikan harga ini adalah jalan terakhir yang dipilih. Jadi biasanya kita punya opsi-opsi, ada first base, second base, third base. Kita coba dulu dengan bahwa ini first base-nya harga tidak naik dulu. Kita mencoba hal yang lain menekan dari sisi konsumsinya.

Jadi artinya bahwa tapi nanti in case ini jadi lebih panjang, apa permainan yang dilakukan oleh Trump dan di geopolitik ini, nah kita mungkin nanti ada kebijakan next-nya yang selanjutnya yang kita pilih tadi. Jadi ada menu-menu pilihan berdasarkan set of condition yang terjadi saat ini. Artinya pemilihan untuk menaikkan harga masih belum menjadi opsi utama di tengah kondisi seperti saat ini. Dan kita sudah melihat bahwa kita punya track record untuk mengatasi krisis-krisis yang terjadi sebelumnya.

Pertanyaan Presenter

Kalau Anda lihat saat ini target pemerintah di bulan Juli tanggal 1 kita akan menggunakan B50. Menurut Anda dari segi ekonomi memandangnya, apakah dari segi produktivitas dan sebagainya, apakah kita sudah sangat siap untuk melakukan transformasi ini?

Jawaban Prof. Telisa

Iya, mau enggak mau harus siap, karena memang tantangan yang ada, mau enggak mau kita harus beradaptasi. Nah, cuma memang harus disiapkan. Nah, kalau kami dari sudut ekonomi selalu bicaranya juga skala keekonomian. Jadi bagaimana satu skala keekonomian itu bisa segera tercapai. Dan kemudian yang kedua, jangan lupa dalam setiap hal yang baru itu kan kita butuh investasi. Biasanya ada capital expenditure yang kita keluarkan. Jadi kalau kita misalkan apapun itu, bukan hanya bicara B50, kita bertransisi ke mobil listrik, bertransisi ke geothermal, bertransisi ke rooftop dan lain sebagainya, itu pasti butuh adanya infrastruktur baru, entah converter atau entah alat baru dan sebagainya. Nah, itu kan tentu harus ada pengeluaran.

Kalau kita bicara di level konsumen atau perusahaan, mereka harus mengeluarkan biaya awal capital expenditure untuk melakukan itu. Nah, sekarang pertanyaannya bagaimana kesiapan dari sisi masyarakat tadi misalkan untuk membeli kompor listrik, untuk membeli motor listrik, untuk membeli mobil listrik dan seterusnya. Nah, itu harus dipertimbangkan juga. Ini kan antara kacamata policy maker dengan perusahaan atau rumah tangga yang akan melakukan. Nah, itu pasti kita bicara kesiapan dari pendanaan atau pembiayaan untuk membeli starting point yang tadi, infrastruktur seperti itu. Nah, makanya ada insentif-insentif yang diberikan. Kemarin sudah untuk mobil listrik seperti diberikan pembebasan PPN.

Nah, ini harapannya ada lagi karena di 2026 ini masih uncertain, apakah dilanjutkan atau tidak pembebasan PPN untuk mobil listrik. Karena kalau misalkan contoh, mobil listrik kalau tidak ditanggung PPN, itu harga mobil listrik diperkirakan bisa naik 30 sampai 40%. Hal seperti itu seperti apa? Artinya dari sisi fiskal policy-nya juga harus mendukung.

Nah, cuma balik lagi di sisi fiskal pasti Kementerian Keuangan juga akan melakukan review sejauh mana ini akan mempengaruhi defisit APBN dan seterusnya. Tapi kan tadi ada efisiensi yang dihasilkan, 48T, 6,2T dan seterusnya. Nah, itu mungkin bisa dialokasikan. Nah, kalau kita lihat struktur APBN kita, 35 triliunan itu untuk pengembangan energi baru terbarukan.

Satu hal lagi โ€” undang-undang EBT itu sampai sekarang belum disahkan. Nah, itu yang kita dari 5 tahun yang lalu membahas RUU EBT ini belum juga. Nah, bagaimana dari pemerintah sendiri, karena tanpa adanya undang-undang itu ataupun peraturan-peraturan turunan biasanya juknis-juknis untuk insentif juga menjadi terganggu. Jadi kerangka regulasinya juga harus dipersiapkan. Kita bicara macam-macam tujuan, visi itu sangat setuju. Tapi again di dalam implementasi kita butuh kerangka regulasi, kerangka pendanaan, dan kerangka operasional. Nah, untuk menjalankan ini menjadi lebih implementable lagi, itu tadi butuh dukungan dan untuk masyarakat edukasinya juga jangan lupa bahwa tujuannya ini bersama-sama kita di satu perahu yang sama, kita harus mengubah tadi lifestyle dan sebagainya.

Pertanyaan Presenter

Bagaimana pemerintah seharusnya bersikap agar kedua belah pihak โ€” transisi bisa berjalan dengan baik, tapi tidak memberatkan APBN kita?

Jawaban Prof. Telisa

Jadi kebijakan yang bertahap intinya, dan kemudian dengan sosialisasi dan edukasi yang terukur. Jadi kita bersama-sama di satu perahu, ada kesadaran bersama dan kemudian kita betul-betul harus menjadikan ini suatu momentum. Karena selalu kita dari dulu ingin mengakselerasi EBT ini, tapi biasanya kalau harga minyak murah, kita jadi agak lambat lagi akselerasinya. Biasanya nanti ingat lagi kalau diingatkan lagi dengan kejadian seperti ini. Nah, ini harapannya momentum ini menjadikan kita sadar bahwa inilah saatnya kita transisi ke energi baru terbarukan, at all cost kita harus siapkan. Jadi jangan maju mundur lagi nanti kalau harga minyak turun lagi. Karena misalkan begini, 2022 kita menikmati tren harga minyak dalam 4 tahun ini turun terus. Nah, itu biasanya kita jadi agak lambat dalam melakukan akselerasi. Jadi pengalaman geopolitik ini menunjukkan bahwa dunia yang semakin fluktuatif, yang semakin tidak pasti, itu kita memang harus melakukan transisi ini.

Nah, terus tapi cermatnya bagaimana dari sisi APBN tetap terjaga? Bahwa tidak mungkin semuanya disubsidi. Mungkin harapan 50% tapi kan kita juga ada realitasnya. Bertahap. Kita harus ada terobosan-terobosan kebijakan. Misalkan ada salah satu produsen mobil listrik, dia itu bukan menjual, tapi dia sewa beli. Jadi menyewa, karena kalau menjual kan itu mahal capex-nya. Nah, jadi ada inovasi car sharing atau sewa beli. Itu inovasi-inovasi seperti itu mungkin bisa dan masyarakat yang penting promote dulu, kenal dulu. Nah, mungkin subsidi di awal 10% itu juga bisa dilakukan bertahap dan sesuai dengan kemampuan, tapi terus konsisten.

๐Ÿ”‹
Dewan Energi Nasional
Satya W. Yudha
Anggota Dewan Energi Nasional Republik Indonesia
Pertanyaan Presenter

Apakah karena pengalaman di krisis sebelumnya sehingga kita tidak panik menanggapi krisis eskalasi Timur Tengah ini?

Jawaban Satya Yudha

Saya pikir ini sudah yang kesekian kali ya, kita sampaikan kepada publik bahwasanya dari beberapa indikasi yang kita lakukan, kita masih mempertahankan daya beli daripada masyarakat. Oke. Kita tahu bahwa dua asumsi ekonomi makro kita berubah, kurs berubah, ICP juga berubah. Maka kita juga mengerti bahwasanya kekuatan daripada APBN itu pasti akan teruji di sini. Maka pilihan yang diambil oleh pemerintah, pilihan yang bijak, karena tidak ingin mengerek inflasi dan juga daya beli dipertahankan. Namun demikian yang mesti dipelajari oleh masyarakat adalah bahwa kita dalam situasi yang sulit tetapi pemerintah bekerja keras untuk mempertahankan itu. Berarti apa? Berarti ada satu tugas yang masyarakat juga harus lakukan. Melakukan penghematan, melakukan efisiensi. Apalagi itu sudah menjadi norma dari beberapa negara tetangga kita. Jadi sikapilah kebijakan daripada pemerintah itu dengan sikap pola hidup yang lebih efisien, lebih hemat juga.

Pertanyaan Presenter

Menurut Pak Satya, kalau melihat bahwa ternyata ojek online sebagian memakai non subsidi juga, sampai sejauh mana pemerintah harus menyikapinya?

Jawaban Satya Yudha

Saya tidak melihat Pak Bahlil bilang begitu. Pak Bahlil bilang bahwa subsidi dan non subsidi tidak naik. Iya betul. Jadi itu yang mesti dipegang dulu. Nanti harapannya adalah bahwa di saat kita masih menikmati harga seperti sekarang sementara tetangga-tetangga kita sudah tinggi, maka kita harus merubah perilaku tadi. Jadi kalau saya mensitir misalkan, kita mendorong untuk menuju kepada mobil umum, angkutan umum. Per penumpang dia empat kali lebih efisien dibandingkan kalau itu menggunakan mobil pribadi. Dan kita harus lihat, di DKI saja itu 19,5% adalah mobil umum, sementara yang pribadi masih 70%. Jadi sebetulnya kalau kita melihat dalam konteks efisiensi, kalau mobil pribadi kita migrasi menjadi mobil umum, efisiensinya tambah dan masyarakatnya juga dia tidak akan mengeluarkan uang per penumpang yang lebih mahal.

Di Dewan Energi Nasional kita itu kan satu institusi yang terdiri dari beberapa kementerian. Kementerian Perhubungan salah satunya. Di dalam analisa Kementerian Perhubungan mengatakan bahwa kita harus dorong besar untuk supaya kita mengalihkan dari mobil pribadi ke mobil umum. Itu PR bagi kami.

Pertanyaan Presenter

Dari 1,6 juta per barel setiap harinya, saya ingin tahu dari 1,6 juta itu kira-kira pembagiannya gimana untuk BBM, solar, kemudian untuk LPG?

Jawaban Satya Yudha

Yang paling penting sebetulnya karena ini berkaitan dengan fiskal, 1 juta itu adalah kita impor. 600 ribu itu adalah produksi dalam negeri. Walaupun masih ada bagian daripada KKKS yang akhirnya bisa dipakai untuk domestik. Tapi paling tidak PR kita adalah 1 juta barel. Ini 1 juta barel itu tidak semuanya dalam bentuk crude, ada sekitar 153 juta sendiri itu dalam bentuk crude, sisanya adalah BBM. Sekarang kalau kita melihat adanya konversi tadi, kita harapkan tidak 1,6 lagi. Kita berharapkan ke depan itu mungkin menjadi 1,2 menjadi satu. Nah, sehingga defisit kita tidak besar. Maka kena-apa, kita mengkonversi kendaraan itu di dalam rangka untuk menekan daripada impor tadi.

Harus ada konversi untuk menekan kebutuhan energi, itu baru transportasi, belum yang di household. LPG misalkan itu juga kita impor 70%-nya. Nah ini kalau misalkan kita bisa men-switch, mengkonversi dari LPG ke jaringan gas kota misalkan, itu sudah akan luar biasa. Belum lagi nanti ke kompor listrik misalkan. Ada banyak opsi konversi yang akan dilakukan oleh pemerintah termasuk juga pemerintah saat ini melakukan penghematan. Kalau sebelumnya itu sekitar 60 liter untuk BBM subsidi yang bisa dibeli oleh masyarakat, sekarang 50 liter.
Pertanyaan Presenter

Untuk B50, banyak yang mengatakan bahwa ini bisanya dipek 2012 ke bawah untuk mobil khususnya. Anda menilainya bagaimana nih untuk DEN?

Jawaban Satya Yudha

Jadi begini, di Dewan Energi Nasional itu kebetulan salah satu tupoksinya adalah melakukan pengawasan di sektor energi yang sifatnya lintas sektor. Jadi kita diskusikan, ide daripada pemerintah untuk B50 tentunya akan kita usahakan supaya itu betul-betul bisa dijalankan dengan baik tanpa ada keluhan. Maka kenapa manufacturers juga sangat penting untuk memahami. Jadi manufacturers yang di Jepang ataupun kalau di Indonesia kita punya Pindad, bisa mengadjust supaya B50 itu betul-betul bisa dijalankan dengan baik. Karena kita coba undang juga Gaikindo, karena mereka yang mengatakan spare part-nya sering ganti misalkan. Nah itu kan keluhan-keluhan yang kita tampung. Di samping itu juga kita berbicara dengan Kementerian Pertanian, karena peningkatan menjadi B50 otomatis CPO-nya ketarik ke transportasi. Padahal kita the biggest CPO exporter. Bagaimana meningkatkan produktivitas. Dan kalau produktivitasnya juga ditingkatkan, terutama misalkan yang selama ini dikelola oleh masyarakat itu sekitar 40%. Kalau dia bisa sampai 5 ton per hektar atau bisa lebih daripada itu, maka itu akan bagus sehingga B50-nya jalan tetapi posisi Indonesia untuk CPO-nya juga bagus.

B40 saja itu kita sudah menghemat solar sebesar 15,65 juta kilo. Itu setara dengan 139,8 triliun. Bayangkan itu B40. Kalau nanti menjadi B50 tentunya itu akan menjadi lebih besar lagi. Untuk etanol, kalau kita menggunakan etanol E5, itu penghematan gasolinnya sekitar 60.000 kilo, itu setara dengan 26,13 miliar. Itu E5 saja. Nanti E juga akan bergerak.

Maka hal-hal yang seperti ini menurut saya kontribusinya besar terhadap ketergantungan kita pada impor. Maka kenapa program ini mesti kita dorong, tetapi akses daripada program ini terutama kepada performance daripada kendaraan dan lain sebagainya itu harus diperhatikan baik oleh manufacturer, diperhatikan juga oleh pengguna daripada mobil yang BBM-nya menjadi B50, supaya tidak ada awareness dari masyarakat. Nantinya bisa menggunakan hal ini dan tujuan ataupun capaian untuk surplus solar ini benar-benar bisa tercapai khususnya di tahun 2026 ini.

โšก
Kementerian ESDM
Prof. Eniya Listiani Dewi
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) ยท Kementerian ESDM
Pertanyaan Presenter

Melihat pengamatan yang dilakukan dan konversi yang sedang disiapkan, bagaimana ESDM mempersiapkan itu?

Jawaban Prof. Eniya

Iya. Menanggapi situasi ini kalau kita lihat dari sisi energi sebetulnya Indonesia itu di sisi yang tahan. Kalau bicara angka kita di posisi angka 6,64. Ketahanan energi kita di rentang 6 sampai 8 itu tahan. Jadi kita pada posisi yang bisa menyiapkan diri kita. Nah, saya rasa apa kebijakan yang sudah diambil itu sudah tepat. Kita juga berhitung, berhitung konsumsi energi kita berapa. Lalu kita memproduksi bisa memproduksi berapa dan kita juga mempunyai sumber bahan baku yang luar biasa dari sumber daya alam kita dari nabati, terus produksi minyak kita juga ada. Jadi ini yang menumbuhkan ketahanan kita dan kita punya potensi yang luar biasa terutama masuk ke masalah energi yang sekarang fosil malah meningkat harganya. Ini di sisi lain kita bisa melihat bahwa renewable energy juga menjadi satu hal yang sangat kompetitif.

Malah kalau bicara dengan harga solar yang sekarang ini bisa sampai 17.500-an, itu harga CPO-nya dalam Rupiah. Ini satu bukti bahwa sumber daya alam kita bisa bermanfaat. Sisi ketahanan energi ini perlu didorong terus.

Kami sudah bergerak melakukan program B40 itu sudah dari awal tahun 2025, salah satu upaya untuk mengurangi impor. Lalu kita juga dorong electric vehicle. Electric vehicle kita pastikan berbagai perizinan mudah. Lalu bahkan sampai tahun kemarin kita sudah melakukan konversi kendaraan listrik terutama roda dua. Nah, ini arahan dari Pak Presiden, ada roda 4 segala macam sudah bisa masuk. Nah, ini kita juga berupaya untuk mendorong penggunaan electric vehicle tentunya. Lalu di sisi lain lagi kita sedang berhitung ini dengan bioetanol juga untuk mengurangi impor bensinnya. Jadi itu salah satu upaya-upaya yang kita lakukan. Bahkan dari tadi sudah disinggung kompor listrik. Jadi pemakaian listrik itu konsumsi listrik per kapita sekarang kita itu baru di 1.500. Kalau negara maju itu sudah 7.000 sampai 10.000 per orang.

Jadi konsumsi energi itu memang perlu ditingkatkan untuk menjadi negara maju. Tetapi di lain sisi kita harus berhemat juga dan energi kita diarahkan ke kegiatan-kegiatan yang lebih produktif dan juga dengan efisiensi energi. Misalnya kalau lampu-lampu yang biasa digunakan di gedung tidak terlalu dipakai pada siang hari, itu sudah menekan biaya subsidi BBM di sektor ketenagalistrikan. Itu salah satu hal yang nyambung dan kita melihat efisiensi energi ini perlu dimasifkan. Karena saat ini kita baru merasakan ternyata AC itu juga sangat berpengaruh, itu makan boros energi. Nah, kita harus adjust itu agar di ujung untuk suplai ketenagalistrikannya ini karena juga menggunakan fosil bisa berkurang.

Pertanyaan Presenter

Ada PR besar soal konversi LPG. Bagaimana pemerintah dengan cepat di tengah kondisi seperti saat ini kemudian melakukan konversi itu?

Jawaban Prof. Eniya

Ini kan kalau ibu-ibu juga banyak memasak. Kalau saya melihatnya, sektor menengah ke atas, penggunaan LPG non subsidi juga perlu dikurangi dan beralih ke listrik maupun penggunaan natural gas. Kalau saya melihatnya, natural gas itu sekarang sudah bisa diproduksi banyak dari industri kelapa sawit yang punya limbah 60%-nya itu POME. Jadi itu limbah cair kelapa sawit bisa dikonversi menjadi biogas dan biogas ini bisa dipiping masuk di jargas. Nah, jargas kita itu sudah mulai tersambung dari Sumatera ke Jawa juga. Jadi ini salah satu potensi yang bisa kita akselerasi untuk penggunaan gas di sektor natural gas di sektor rumah tangga juga. Dan saya melihatnya nanti kalau kita juga bicara pembangkit listrik tenaga sampah, sekarang sampah itu juga bisa menghasilkan biogas. Jadi upaya-upaya konversi energi ini yang di mana kita selama ini bergantung kepada impor itu harus bisa kita produksi sendiri dari sektor masak-memasak seperti itu. Nanti dari sektor ketenagalistrikan, transportasi juga banyak juga bisa menggunakan listrik yang diproduksi sendiri terutama menggunakan renewable energy. Kita punya surya, angin dan lain sebagainya, itu harus dimanfaatkan.

Pertanyaan Presenter

Tapi singkat saja, apakah kita siap untuk langsung menerapkan B50 pada 1 Juli? Bagaimana prosesnya?

Jawaban Prof. Eniya

Saat ini kita sudah melakukan uji. Untung pada saat kemarin bulan Desember tahun lalu kita sudah start uji untuk enam sektor. Jadi sektor otomotif, sektor maritim perkapalan, sektor perkeretaapian, lalu genset, alat pertanian, dan satu lagi pertambangan. Dan saat ini kita sudah sampai kepada uji otomotif yang sebentar lagi selesai pada bulan Mei, dan tambang baru saja selesai. Nah, sektor tambang pertambangan ini kita sudah selesai di minggu ini. Ujinya 1.000 jam. Lalu alsintan semua traktor ikut. Jadi kali ini kita uji road test B50 itu sudah menggunakan berbagai kendaraan. Tadinya mungkin hanya empat. Tahun lalu waktu B40 ujinya hanya empat, kita sekarang 19 kendaraan. Berbagai uji yang di kapal pun kita real kapal, enggak lagi cuma engine. Jadi ini semua kita lakukan dan mudah-mudahan di bulan Mei akan sudah selesai semua kecuali memang kereta. Nah, kereta karena ada angkutan lebaran sehingga baru mulai di bulan ini kita akan sampai dengan Oktober. Mudah-mudahan nanti sesuai, ujinya sudah selesai, kita bisa persiapan. Memang sekarang sedang persiapan untuk menghitung volume B50 yang diperlukan. Jadi mudah-mudahan bisa. Oke, kita harus adaptif dan resilien.

Pertanyaan Presenter

Tadi sempat Anda senyum-senyum mendengar undang-undang EBT yang saat ini masih belum diterapkan. Bagaimana sebenarnya prosesnya?

Jawaban Prof. Eniya

Saat ini kita menghasilkan berbagai regulasi yang memang mendukung masalah terobosan. Jadi waktu itu kita masukkan ke dalam rancangan Undang-Undang EBET itu, ada beberapa item-item yang kita dorong karena belum ada renewal. Ini kita masukkan ke PP, Peraturan Pemerintah, lalu ada ke Perpres, termasuk sampah sudah ke Perpres. Lalu masalah akselerasi dari renewable energy ini, kan biasanya renewable energy itu karakternya berasal dari lokasi yang susah. Misalnya geothermal di gunung, terus PLTS di lahan terbuka. Nah, ini evakuasinya memerlukan jaringan. Nah, investasi di jaringan kita masukkan di RUPTL. Lalu sewa jaringan antar wilayah usaha sekarang sudah bisa. Jadi itu sedang kita masukkan ke revisi PP juga.

Jadi ada beberapa hal yang saat ini kita lakukan terobosan-terobosan termasuk di pembangkit listrik tenaga sampah kita sudah tetapkan 20 sen pembelian listrik yang di mana harganya tinggi tetapi itu sudah kita masukkan ke Perpres dengan perhitungan. Jadi sudah masuk, tidak perlu negosiasi lagi.

Nah, seperti itu sudah masuk beberapa. Nah, sekarang juga masih tentang karbon. Tentang karbon ada di RUU EBET juga. Sekarang sedang kita bahas untuk Perpresnya sudah ada kemarin Perpres 110. Nah, itu terus kita turunkan menjadi peraturan menteri yang nanti karbon-karbon wilayah energi ada wewenangnya di Kementerian ESDM. Jadi itu yang baru kita akselerasi terus termasuk misalnya di Satgas Transisi Energi โ€” Pak Menteri Bahlil menjadi ketua. Nah, di dalamnya kita membahas misalnya seperti B50 ini termasuk jadi biofuel, program B50, program bioetanol, lalu program konversi kendaraan listrik, lalu satu lagi mengenai PLTS yang 100 GW. Kita sedang identifikasi detail dan di sini akan mengeluarkan Perpres juga. Jadi, kita sedang akselerasi bagaimana menerobos itu karena undang-undang memang cukup makan waktu, jadi dipercepat dengan yang saat ini bisa dilakukan.

Betul. Dari energi baru terbarukan, investasi itu terus naik, tetapi memang pertumbuhan ekonomi perlu energi yang affordable harganya. Jadi itu salah satu yang kita lihat dan juga kita dorong terus pemakaian energi baru terbarukan. Karena di sisi kalau kita melihat potensi kita dari renewable energy yang intermittent seperti angin dan surya, kita punya hidro dan geothermal itu selalu disebut, dan ini baseload, ini salah satu pengganti diesel yang sangat bisa langsung masuk. Kita juga berharap biodiesel ini tidak komit dengan makanan, kita bicara bioetanol juga begitu. Kalau ketahanan kita di nilai 6,64 itu mendekati 7, kita harus naik ke 8.

๐Ÿ›ต
Ojek Online ยท Pekerja Harian
Mas Tarjito
Pengemudi Ojek Online ยท Suara Masyarakat Pekerja Nonformal
Pertanyaan Presenter

Mas Tarjito ini biasanya pakai BBM apa?

Jawaban Mas Tarjito

Saya terakhir pakai RON 92 Pertamax. Non subsidi.

Pertanyaan Presenter

Kenapa kemudian Anda memilih untuk pakai non subsidi?

Jawaban Mas Tarjito

Saya lebih memperhatikan mesin motor saya. Pertama saya menyesuaikan motor yang saya pakai.

Pertanyaan Presenter

Kalau dari rata-rata ojek online pengemudi yang lainnya, apakah juga sama menggunakan non subsidi?

Jawaban Mas Tarjito

Sebagian mungkin lebih banyak dipakai subsidi daripada non subsidi. Karena pertimbangan dari segi harga mungkin lebih masuk kalau buat teman-teman.

Pertanyaan Presenter

Sejauh ini kalau misalnya sehari narik, pendapatannya berapa dan berapa yang dikeluarkan untuk membeli bensin?

Jawaban Mas Tarjito

Saya biasa isi bensin 1 hari Rp60.000. Untuk pendapatan kita bicara kotor ya. Di angka Rp200.000.

Pertanyaan Presenter

Sempat ada kekhawatiran enggak sih di pengemudi ojek online dengan kondisi yang terjadi di Timur Tengah ini?

Jawaban Mas Tarjito

Tentu ada dari saya pribadi, apalagi dengan isu kenaikan BBM. Paling kita bicara kalau misalkan BBM naik, kita pasti mikirnya tarifnya juga akan naik. Harapan kita seperti itu. Jadi semakin besar pengeluaran, semakin juga seimbang dengan pendapatan.

Tapi kemarin pemerintah dengan tegas mengatakan bahwa belum ada kenaikan BBM baik yang subsidi maupun non subsidi. Ya, saya pertama sangat bersyukur dengan tidak jadinya kenaikan BBM ini. Jadi pengeluaran bisa disesuaikan masih seperti biasa.

Pertanyaan Presenter

Ojek online apakah sudah siap untuk melakukan transisi ke motor listrik?

Jawaban Mas Tarjito

Betul. Kalau menurut saya pribadi, ini langkah baik karena untuk mengurangi ketergantungan dengan BBM dan juga untuk mengantisipasi polusi. Mengurangi polusi untuk di perkotaan itu sendiri. Cuma kalau kita bicara untuk kita sendiri untuk ke motor listrik, apakah uangnya ada? Mungkin untuk saat ini belum mencukupi. Nah, gimana caranya untuk bisa mendukung itu dengan sukses? Ya, satu kembali ke pemerintah itu sendiri. Kalau kita harapannya, kalau misalkan mau diperalihkan dari BBM ke listrik, subsidinya dalam artian kita harus ada seperti bantuan langsung dari pemerintah. Insentif, entah insentifnya ataupun entah di harga unit. Kalau kita bicara motor, mungkin ada pengurangan dari harganya itu sendiri. Terus kesiapan-kesiapan itu sendiri. Kalau kita bicara sekarang di Jakarta sendiri untuk SPKLU sudah mencukupi. Tapi kalau kita bicara di daerah, kayaknya masih sangat minim.

Kalau dilihat dari segi persentase, 20-30% buat kita masih agak berat. Karena kita bicara pekerja harian lepas seperti kita, untuk di angka segitu kita masih cukup lumayan besar. Kalau bisa subsidinya di atas 50%. Khususnya untuk pekerja lepas nonformal seperti ojek online.
05 โ€” Roadmap Transisi Energi

Peta Jalan Konversi
Energi Indonesia

Dari biodiesel hingga kendaraan listrik dan EBT โ€” rangkaian program transisi yang sedang dan akan dijalankan untuk kurangi ketergantungan impor energi fosil.

๐ŸŒด
B40 โ†’ B50
Kurangi impor solar. B50 mulai 1 Juli 2026. Hemat Rp48 T dalam 6 bulan
โœ“ Berjalan
โ€บ
โš—๏ธ
Bioetanol E5+
Kurangi impor bensin. Sedang dihitung volumenya. E5 hemat 60.000 KL gasoline
โš™ Persiapan
โ€บ
๐Ÿš—
Kendaraan Listrik
Bebas PPN, konversi roda 2 & 4 didorong. SPKLU tersedia di kota besar
โœ“ Berjalan
โ€บ
๐Ÿ”ฅ
LPG โ†’ Biogas/Jargas
LPG 70% impor. Biogas dari limbah sawit POME dipiping ke jaringan gas kota
โš™ Persiapan
โ€บ
โ˜€๏ธ
EBT โ€” 100 GW PLTS
Target 100 GW tenaga surya + geothermal + hidro. Sewa jaringan antar wilayah sudah diizinkan
๐Ÿ“‹ Dipercepat
06 โ€” Sumber Video

Tonton Diskusi Panel
Lengkap

Program Indonesia Bisnis Forum TV One โ€” empat narasumber pakar lintas institusi membahas respons Indonesia di tengah krisis energi global.

Indonesia Bisnis Forum ยท TV One ยท 2026

TV One ยท Indonesia Bisnis Forum
Krisis Energi: Negara Lain Panik, BBM RI Tak Naik โ€” Panel Pakar Prof. Eniya, Satya Yudha, Prof. Telisa & Hamdan
โ–ถ Tonton di YouTube
"

Kita tidak bisa mengubah arah angin, tapi kita bisa menyesuaikan layar agar perahu kita bersama yang kita sebut Indonesia ini bisa sampai ke tujuan.

โ€” Hamdan Hamedan ยท Tenaga Ahli Utama BAKOM RI